
Ponpes Al Khoziny Akan Direnovasi, Ini Rekomendasi IAI untuk Desainnya
Rencana Pembangunan Kembali Pondok Pesantren Al Khoziny
Pemerintah berencana untuk membangun kembali Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengalami kerusakan parah hingga menimbulkan korban jiwa. Dalam rangka memastikan keamanan dan keselamatan bangunan, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) memberikan masukan terkait rancangan desain arsitektur yang sebaiknya diterapkan.
Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto atau yang akrab disapa Boegar, menjelaskan bahwa langkah awal yang penting dilakukan adalah melakukan verifikasi dan validasi kondisi eksisting bangunan. Bahkan jika diperlukan, audit keandalan bangunan juga harus dilakukan.
“Dari hasil verifikasi tersebut, dilakukan assessment atau kajian teknis yang akan menentukan apakah diperlukan perancangan ulang,” ujarnya.
Proses ini juga harus memerhatikan kebutuhan dan visi lembaga dalam jangka panjang, kapasitas santri saat ini, proyeksi pertumbuhan jumlah siswa setiap tahun, serta pengembangan yang diharapkan dalam 10–15 tahun ke depan. Semua pertimbangan tersebut menjadi dasar agar rancangan yang dihasilkan benar-benar efisien, aman, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan nyata.
Peran IAI dalam Pembangunan Ponpes Al Khoziny
Boegar menjelaskan bahwa sebagai asosiasi profesi, IAI tidak berfungsi sebagai pelaksana proyek, tetapi memiliki mandat untuk membina, mengembangkan, dan menjaga standar keprofesian arsitek di Indonesia. IAI berdiri sebagai penjaga marwah profesi, memastikan bahwa setiap arsitek bekerja dengan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Di bawah payung IAI Nasional, terdapat sebuah badan bernama Badan Pengabdian Profesi (BPP) yang menjadi wadah bagi arsitek untuk mengabdikan keahliannya dalam kegiatan sosial, edukatif, dan kemanusiaan. Menurut dia, BPP IAI telah terlibat dalam berbagai program pendampingan masyarakat di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini mencakup edukasi tentang arsitektur ramah lingkungan, desain tanggap bencana, hingga penyusunan standar teknis untuk berbagai jenis bangunan publik seperti fasilitas pendidikan, tempat ibadah, dan bangunan pelayanan masyarakat lainnya. Semua bentuk pendampingan tersebut dilakukan dalam semangat profesionalisme dan pelayanan publik.
Pendampingan IAI dalam Berbagai Bentuk
Pendampingan yang dilakukan IAI pun dapat bersifat pro bono (sukarela), terutama untuk kegiatan sosial, atau dengan skema honorarium tertentu tergantung skala, waktu, dan kedalaman pekerjaan yang dilakukan. Prinsipnya, IAI tidak berproyek. Namun memastikan bahwa arsitek yang direkomendasikan untuk membantu masyarakat adalah individu yang kompeten dan teregistrasi secara resmi.
Dengan demikian, setiap kegiatan dilakukan secara profesional dan sesuai dengan etika keprofesian. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua proses pembangunan dan pendampingan dilakukan dengan baik dan sesuai standar yang berlaku.
Langkah-Langkah Penting dalam Proses Rekonstruksi
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan dalam rekonstruksi Ponpes Al Khoziny antara lain:
Verifikasi dan Validasi Kondisi Eksisting
Mengecek struktur bangunan, material yang digunakan, serta kondisi fisik secara menyeluruh untuk mengetahui tingkat kerusakan dan potensi risiko.Audit Keandalan Bangunan
Melibatkan ahli teknik dan arsitek untuk mengevaluasi kekuatan dan ketahanan struktur bangunan terhadap ancaman alam maupun beban berlebih.Kajian Teknis dan Perancangan Ulang
Setelah data lengkap diperoleh, dilakukan analisis untuk menentukan apakah perlu perancangan ulang atau hanya perbaikan sebagian saja.Evaluasi Kebutuhan Jangka Panjang
Memperhitungkan kapasitas santri, proyeksi pertumbuhan, serta pengembangan yang diharapkan dalam 10–15 tahun ke depan.Penerapan Standar Arsitektur Ramah Lingkungan dan Tanggap Bencana
Menggunakan konsep desain yang lebih aman, hemat energi, dan siap menghadapi ancaman bencana alam.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Ponpes Al Khoziny dapat dibangun kembali dengan standar yang lebih baik, aman, dan berkelanjutan.
Leave a Comment