
Pembangunan Masjid Raya Sulteng 98,5 Persen, Siap Beroperasi 2026
Progres Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat Sulawesi Tengah
Pembangunan Masjid Raya Baitul Khairaat di Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah mencapai tahap akhir. Hingga awal Oktober 2025, progres fisiknya telah mencapai 98,5 persen dan kini memasuki fase finishing. Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Provinsi Sulteng, Andi Ruly Djanggola, menyampaikan bahwa sisa pekerjaan saat ini meliputi penyelesaian mihrab, pagar, serta sejumlah detail estetika bangunan.
“Alhamdulillah, progres Masjid Raya Sulawesi Tengah sudah mencapai 98,5 persen, bahkan hampir 99 persen. Saat ini tinggal tahap beautifikasi seperti mihrab dan pagar yang membutuhkan ketelitian,” ujar Ruly saat ditemui di Aula Polibu, Kantor Gubernur Sulteng, Kamis (9/10/2025).
Masjid Raya Baitul Khairaat tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga akan menjadi pusat aktivitas keagamaan dan peradaban Islam di Sulawesi Tengah. Fasilitas yang disediakan sangat lengkap, termasuk aula berkapasitas 500 orang, museum peradaban Islam, perpustakaan, ruang aktivitas anak-anak, dan kantor pengelola. Di kawasan ruang terbuka hijau juga disiapkan area UMKM syariah.
Selain fasilitas megah, Masjid Raya Baitul Khairaat juga akan mencatatkan dua rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 20 Oktober 2025 mendatang. “Insyaallah pada 20 Oktober nanti, Masjid Raya Baitul Khairaat akan mendapat dua rekor MURI. Pertama untuk kubah terbesar di Indonesia dengan diameter 90 meter, dan kedua untuk jam terbesar di Indonesia, urutan kelima di dunia,” ungkap Ruly.
Terkait pengelolaan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan dua skema, yakni dalam bentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) atau Badan Pengelola Mandiri. Struktur pengelolaan nantinya akan mengatur operasional dan pemeliharaan masjid yang merupakan aset milik Pemprov Sulteng. “Gubernur sudah menginstruksikan agar pengelolaan masjid nanti diatur dengan dua opsi, apakah dalam bentuk BLUD atau badan pengelola mandiri,” tambahnya.
Masjid megah yang berdiri di kawasan Palu Timur itu mampu menampung 10.000 jamaah di ruang utama dan hingga 30.000 jamaah jika termasuk area pelataran luar. Lantai satu diperuntukkan bagi jamaah laki-laki dengan kapasitas 8.000 orang, sedangkan lantai dua untuk jamaah perempuan sebanyak 2.000 orang.
Jika tidak ada kendala, masjid akan difungsikan sepenuhnya mulai tahun 2026, dan ditargetkan sudah dapat digunakan untuk salat tarawih dan Idul Fitri. “Insyaallah tahun 2026 sudah dimanfaatkan. Kita tarawih dan lebaran di sana,” tutur Ruly optimistis.
Diketahui, Masjid Raya Baitul Khairaat berdiri di atas lahan seluas 4 hektar di Jl Jaelangkara, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat. Proyek ini merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang dibiayai dari APBD senilai Rp376 miliar.
Selain menjadi pusat ibadah, masjid juga akan menjadi ikon budaya dan keagamaan dengan fitur khas seperti jam raksasa di depan kubah serta sistem pengolahan air limbah (IPAL) modern. Pemerintah juga tetap mempertahankan area kuliner di halaman depan masjid sebagai ruang sosial dan ekonomi masyarakat.
Leave a Comment